Jakarta (KABARIN) - Atmosfer Stadion Manahan terasa berbeda pada Minggu malam. Bukan sekadar pertandingan biasa, laga antara Persis Solo dan Semen Padang menjadi momen krusial dalam perjuangan keluar dari zona degradasi.
Dan hasilnya? Laskar Sambernyawa sukses mengubah tekanan menjadi kemenangan penting dengan skor 2-1.
Sejak peluit awal, Persis tampil agresif. Meski sempat kesulitan menembus pertahanan lawan, kesabaran mereka akhirnya terbayar di menit ke-37.
Lewat sepakan terukur, Miroslav Maricic membawa Persis unggul dan membakar semangat ribuan suporter di tribun.
Semen Padang bukannya tanpa perlawanan. Peluang emas dari Kianz Froese hampir saja mengubah jalannya laga, namun bola hanya membentur mistar.
Memasuki babak kedua, tensi pertandingan meningkat. Semen Padang akhirnya menemukan celah—meski dengan cara yang tak terduga.
Gol bunuh diri Sutanto Tan pada menit ke-68 membuat skor kembali imbang 1-1.
Namun, Persis tak butuh waktu lama untuk bangkit.
Melalui skema serangan cepat, umpan matang dari Dimitri Lima berhasil dimaksimalkan oleh Dejan Tumbas menjadi gol kemenangan di menit ke-78.
Gol ini bukan hanya soal angka—tapi soal harapan.
Kemenangan ini terasa lebih dari sekadar tiga poin. Persis Solo kini naik ke peringkat 15 dengan 24 poin, keluar dari zona degradasi dan membuka peluang bertahan di BRI Super League.
Sebaliknya, Semen Padang harus tertahan di posisi 17 dan semakin tertekan dalam perburuan keluar dari zona merah.
Laga ini menunjukkan satu hal: di fase krusial seperti ini, mental dan momentum adalah segalanya.
Bagi Persis, kemenangan ini adalah suntikan kepercayaan diri. Bagi Semen Padang, ini jadi alarm keras untuk segera bangkit.
Dan bagi para suporter? Ini adalah alasan kenapa sepak bola selalu penuh emosi—tak pernah bisa ditebak, selalu menghadirkan cerita.
Editor: Suryanto
Copyright © KABARIN 2026